Aku menyayangimu Billy!
"Aaaaaaaa", aku membuka mulutku
lebar-lebar agar Billy mengikutiku. Ini sudah kesekian kalinya ia
menumpahkan makanan yang akan aku suapkan ke mulutnya. Sungguh ini
pekerjaan menguras tenaga dan sekaligus menguji kesabaran. Aku
benar-benar tidak menyukai hal ini. Sungguh tidak menyukainya.
"Pppppppphhrrrrtt....." Lagi! Billy mempermainkan makanan yang sudah ada dimulutnya sekarang. Aku harus apa!
"Billy kau boleh bermain denganku, asalkan kau menelan semua makanan yang tersisa ini, aku janji akan memberimu coklat"
"Benarkah kakak?"
"Ya,
aku menyimpan beberapa coklat, dan permen loly jika kau menunjukkan
sikap baikmu, dan kepintaranmu sekarang. Kau mau berjanji padaku untuk
tak melakukan hal bodoh seperti tadi?"
"Baiklah kak jika kau berjanji memberiku semua coklat itu"
"Aku
akan memberikannya, sekarang makan makananmu ini, dan aku akan ke
kamarku untuk mengambil coklat-coklat itu. Jangan berulah lagi. Kau
mengerti?"
"Iya kak"
Sebenarnya Billy tidak seburuk
yang aku ceritakan, asalkan saja aku berbicara dg lembut padanya, ia
pasti menurut dan mengikuti apa mauku. Masalahnya adalah emosiku yg naik
turun melihat tingkahnya memaksaku untuk berteriak atau membentaknya
sehingga ia menangis ketakutan. Semenjak saat itu aku berusaha untuk tak
memarahinya apalagi meneriakinya juga membentaknya. Ya semoga saja aku
bisa bertahan dengan tingkahnya yang menyebalkan itu.
================================================================
Hari ini aku harus belajar
semaksimal mungkin, ini adalah impianku sejak lama. Tepatnya sejak
5tahun lalu ketika aku masih SMP. Dan kali ini tak akan aku sia-siakan.
Aku harus berusaha. Ya, aku memiliki impian untuk kembali ke rumah ku
waktu di Sydney dulu, Papaku dulu adalah pimpinan perusahan cabang
disana. Sejak mama dan papa pergi selamanya, aku hidup berdua bersama
Billy disini, dirumah Nona Lika, dia adalah cucu angkat nenek, karna
nenek disini sendirian. Dan beberapa bulan lalu, nenek juga pergi untuk
selamanya, sehingga sekarang aku hanya tinggal bersama Lika dan Billy.
Lika adalah mahasiswi tingkat
akhir, kuliahnya sebagai mahasiswi jurusan eksak membuatnya lebih sering
tinggal di laboratorium daripada pulang kerumah. Sehingga semua
pekerjaan rumah hanya dibebankan padaku. Begitu juga mengurus Billy,
akulah yang harus mengurusnya. Dan sekarang, dengan kesempatan beasiswa
yang ditawarkan padaku, aku akan bisa berangkat ke Sydney, dan pastinya
Lika akan mencarikanku babysitter untuk mengurus Billy. Dan aku? Selain
aku bahagia kembali kesana, aku tak perlu berusah payah mengurus Billy.
Semoga saja.
================================================================
"Silahkan kerjakan mulai dari sekarang!" Pengawas ujian berkata pada kami peserta ujian. Aku sangat bersemangat karna aku di ibaratkan seperti sedang berlari menuju gerbang kebebasan dan kemenanganku. Aku harus bisa. Pasti bisa!
1 Jam....
2 Jam....
"Baiklah waktu habis silahkan tutup lembar jawaban dan kalian diperbolehkan untuk keluar sekarang juga" Pengawas itu memberikan pengumuman sekali lagi. "Jangan lupa periksa semuanya mulai dari nama dan nomor ujian kalian"
================================================================
Akhirnya ujian ini selesai, hanya tinggal menunggu waktunya dan aku akan berangkat! Sydney! Tunggu aku!
================================================================
"KAKAAAAAAAAAAAAAAAAK, aku sedari tadi menunggumu, kau pulang terlalu larut. Aku sendirian"
"Mana Lika? Apakah dia tidak pulang?"
"Ia berkencan"
"Baiklah apa kau sudah melakukan pekerjaan rumahmu?"
"Aku menunggumu karna aku tak mengerti kak"
Ah baiklah pekerjaan baru lagi, padahal tadi aku berfikir bisa istirahat karna aku benar-benar lelah saat ini, test itu cukup menguras jam tidurku juga tenagaku dan sekarang aku harus mengajari Billy untuk menyelesaikan tugasnya.
"Baiklah ayo kita kerjakan..."
Billy memang tidak cerdas seperti anak-anak lainnya. Ia sulit menghafal nama seseorang. Terkadang Billy lupa apakah dia sudah makan atau belum, terkadang itu sangat menggangguku, namun aku senantiasa untuk membantunya. Billy juga adikku walaupun, ia menyebalkan.
================================================================
47. Danisha Bintara --- Gagal
48. Gilang Handrawan --- Gagal
49. Adeline Melodica Sandra --- Berhasil
Aku berhasil! Aku berangkat! SYDNEY!!!
Aku benar-benar bahagia, ini melebihi mendapatkan dor price sebuah mobil! Aku akan kembali ke Sydney dan hidup disana selama 6bulan berturut-turut sampai akhir tahun ini! Dan aku akan BERPISAH dengan BILLY! Aku bahagia!
================================================================
"Kak, aku pasti akan merindukanmu"
"Ya aku juga.."
"Apa kau tidak akan kembali lagi? Kau akan kembali kesini kan? Menemaniku lagi?"
"..."
"Kak, apa kau marah dan malu punya adik sepertiku?"
"Tidak.."
"Lalu kenapa kau meninggalkanku?" Air matanya menetes. Billy menangis.
"Billy, kau tau aku benar-benar merindukan Sydney dan aku ingin pergi kesana sejenak untuk mengingat mama dan papa. Selain itu ini kesempatan emasku untuk belajar, aku harap kau mengerti"
================================================================
5 bulan kemudian
Desember, 2
================================================================
Aku duduk santai disini, aku mengingat beberapa tahun lalu aku merayakan natal bersama mama dan papa, juga Billy, disini. Papa dan mama berkolaborasi untuk menghias pohon natal, begitu juga dengan aku dan Billy, dan tiba-tiba mama membawakan teh hangat dan biskuit untuk menghangatkan diri kami semuanya. Mama papa juga sering mengajak kami untuk melihat drama-drama natal, dan aku sungguh menikmatinya. Bertukar kado, dan memandang keindahan pohon natal itu bersama-sama. Aku merindukannya.
Tak terasa airmataku menetes, sudah 5bulan aku disini, aku sendirian, aku hidup mandiri. Aku merindukan semuanya. Dan tiba-tiba aku merindukan Billy, sedang apa dia? Apakah ia merindukanku? Kenapa tak ada telpon darinya? Apa ia baik-baik saja? Aku merindukannya, kebodohannya kelucuannya. Aku rindu Billy....
Zzzt... Zzzzt...
"Halo"
"Kak"
"Billy, kenapa kau mengganti nomor ponselmu?"
"Ah hanya sementara"
"Baiklah"
"Kak apa kau merindukanku?"
"Ya sangat"
"Aku merindukan mu kak, sungguh.. Aku ingin memelukmu" Billy menangis.
Tuhan, aku ingin bertemu Billy akupun ingin memeluknya.
"Billy, tapi kita jauh"
TERPUTUS. Jaringan telponnya terputus. Aku bersedih. Aku menangis. Aku merindukan Billy...
*toktoktok
Aku berlari menuju pintu depan rumahku. "SEBENTAR" aku sedikit berteriak agar ia tak terus mengetuk pintuku. Aku berlari menuju pintu. Perasaan aku berdesir. Aku degdegan ada apa ini. Akhirnya ku bukakan pintu itu. Ada seorang anak kecil membawa koper dan tersenyum manis padaku. Siapa ia?
"Kak~"
"BILLY"
"Aku merindukanmu"
"Aku juga Billy, mari peluk aku, kau adikku yang terbaik"
"Kau juga"
Trimakasih atas Billy, Trimakasih natal yang indah bersama Billy di tempat ini, tempat dimana aku dibesarkan. Trimakasih untuk segalanya!
"Silahkan kerjakan mulai dari sekarang!" Pengawas ujian berkata pada kami peserta ujian. Aku sangat bersemangat karna aku di ibaratkan seperti sedang berlari menuju gerbang kebebasan dan kemenanganku. Aku harus bisa. Pasti bisa!
1 Jam....
2 Jam....
"Baiklah waktu habis silahkan tutup lembar jawaban dan kalian diperbolehkan untuk keluar sekarang juga" Pengawas itu memberikan pengumuman sekali lagi. "Jangan lupa periksa semuanya mulai dari nama dan nomor ujian kalian"
================================================================
Akhirnya ujian ini selesai, hanya tinggal menunggu waktunya dan aku akan berangkat! Sydney! Tunggu aku!
================================================================
"KAKAAAAAAAAAAAAAAAAK, aku sedari tadi menunggumu, kau pulang terlalu larut. Aku sendirian"
"Mana Lika? Apakah dia tidak pulang?"
"Ia berkencan"
"Baiklah apa kau sudah melakukan pekerjaan rumahmu?"
"Aku menunggumu karna aku tak mengerti kak"
Ah baiklah pekerjaan baru lagi, padahal tadi aku berfikir bisa istirahat karna aku benar-benar lelah saat ini, test itu cukup menguras jam tidurku juga tenagaku dan sekarang aku harus mengajari Billy untuk menyelesaikan tugasnya.
"Baiklah ayo kita kerjakan..."
Billy memang tidak cerdas seperti anak-anak lainnya. Ia sulit menghafal nama seseorang. Terkadang Billy lupa apakah dia sudah makan atau belum, terkadang itu sangat menggangguku, namun aku senantiasa untuk membantunya. Billy juga adikku walaupun, ia menyebalkan.
================================================================
47. Danisha Bintara --- Gagal
48. Gilang Handrawan --- Gagal
49. Adeline Melodica Sandra --- Berhasil
Aku berhasil! Aku berangkat! SYDNEY!!!
Aku benar-benar bahagia, ini melebihi mendapatkan dor price sebuah mobil! Aku akan kembali ke Sydney dan hidup disana selama 6bulan berturut-turut sampai akhir tahun ini! Dan aku akan BERPISAH dengan BILLY! Aku bahagia!
================================================================
"Kak, aku pasti akan merindukanmu"
"Ya aku juga.."
"Apa kau tidak akan kembali lagi? Kau akan kembali kesini kan? Menemaniku lagi?"
"..."
"Kak, apa kau marah dan malu punya adik sepertiku?"
"Tidak.."
"Lalu kenapa kau meninggalkanku?" Air matanya menetes. Billy menangis.
"Billy, kau tau aku benar-benar merindukan Sydney dan aku ingin pergi kesana sejenak untuk mengingat mama dan papa. Selain itu ini kesempatan emasku untuk belajar, aku harap kau mengerti"
================================================================
5 bulan kemudian
Desember, 2
================================================================
Aku duduk santai disini, aku mengingat beberapa tahun lalu aku merayakan natal bersama mama dan papa, juga Billy, disini. Papa dan mama berkolaborasi untuk menghias pohon natal, begitu juga dengan aku dan Billy, dan tiba-tiba mama membawakan teh hangat dan biskuit untuk menghangatkan diri kami semuanya. Mama papa juga sering mengajak kami untuk melihat drama-drama natal, dan aku sungguh menikmatinya. Bertukar kado, dan memandang keindahan pohon natal itu bersama-sama. Aku merindukannya.
Tak terasa airmataku menetes, sudah 5bulan aku disini, aku sendirian, aku hidup mandiri. Aku merindukan semuanya. Dan tiba-tiba aku merindukan Billy, sedang apa dia? Apakah ia merindukanku? Kenapa tak ada telpon darinya? Apa ia baik-baik saja? Aku merindukannya, kebodohannya kelucuannya. Aku rindu Billy....
Zzzt... Zzzzt...
"Halo"
"Kak"
"Billy, kenapa kau mengganti nomor ponselmu?"
"Ah hanya sementara"
"Baiklah"
"Kak apa kau merindukanku?"
"Ya sangat"
"Aku merindukan mu kak, sungguh.. Aku ingin memelukmu" Billy menangis.
Tuhan, aku ingin bertemu Billy akupun ingin memeluknya.
"Billy, tapi kita jauh"
TERPUTUS. Jaringan telponnya terputus. Aku bersedih. Aku menangis. Aku merindukan Billy...
*toktoktok
Aku berlari menuju pintu depan rumahku. "SEBENTAR" aku sedikit berteriak agar ia tak terus mengetuk pintuku. Aku berlari menuju pintu. Perasaan aku berdesir. Aku degdegan ada apa ini. Akhirnya ku bukakan pintu itu. Ada seorang anak kecil membawa koper dan tersenyum manis padaku. Siapa ia?
"Kak~"
"BILLY"
"Aku merindukanmu"
"Aku juga Billy, mari peluk aku, kau adikku yang terbaik"
"Kau juga"
Trimakasih atas Billy, Trimakasih natal yang indah bersama Billy di tempat ini, tempat dimana aku dibesarkan. Trimakasih untuk segalanya!


0 komentar